Farida's posts with tag: jodoh

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jodoh
Blog EntryJodoh dan Kedewasaan Kita Feb 15, '08 8:02 PM
for everyone
Assalamualaikum wr wb
 
Jodoh dan Kedewasaan Kita
Ahmad Muhammad Haddad Assyarkh
 
Jodoh adalah problema serius, terutama bagi para Muslimah. Kemana pun
mereka melangkah, pertanyaan-pertanyaan "kreatif" tiada henti membayangi.
Kapan aku menikah? Aku rindu seorang pendamping, namun siapa? Aku iri
melihat wanita muda menggendong bayi, kapan giliranku dipanggil ibu? Aku
jadi ragu, benarkah aku punya jodoh? Atau jangan-jangan Tuhan berlaku tidak
adil?
 
Jodoh serasa ringan diucap, tapi rumit dalam realita.
Kebanyakan orang berbicara soal jodoh selalu bertolak dari sebuah gambaran
ideal tentang kehidupan rumah tangga. Otomatis dia lalu berpikir serius
tentang kriteria calon idaman. Nah, di sinilah segala sedu-sedan
pembicaraan soal jodoh itu berawal. Pada mulanya, kriteria calon hanya
menjadi 'bagian masalah', namun kemu justru menjadi inti permasalahan itu
sendiri.
 
Di sini orang berlomba mengajukan "standardisasi" calon: wajah rupawan,
berpendidikan tinggi, wawasan luas, orang tua kaya, profesi mapan, latar
belakang keluarga harmonis, dan tentu saja kualitas keshalihan.
 
Ketika ditanya, haruskah seideal itu? Jawabnya ringan, "Apa salahnya?
Ikhtiar tidak apa, ?" Memang, ada juga jawaban lain, "Saya tidak pernah
menuntut. Yang penting bagi saya calon yang shalih saja." Sayangnya,
jawaban itu diucapkan ketika gurat-gurat keriput mulai menghiasi wajah.
Dulu ketika masih fresh, sekadar senyum pun mahal.
 
Tidak ada satu pun dalih, bahwa peluang jodoh lebih cepat didapatkan oleh
mereka yang memiliki sifat superior (serbaunggul). Memperhitungkan kriteria
calon memang sesuai sunnah, namun kriteria tidak pernah menjadi penentu
sulit atau mudahnya orang menakah.
Pengalaman riil di lapangan kerap kali menjungkirbalikkan
prasangka-prasangka kita selama ini.
 
Jodoh, jika direnungkan, sebenarnya lebih bergantung pada kedewasaan kita.
Banyak orang merintih pilu, menghiba dalam doa, memohon kemurahan Allah,
sekaligus menuntut keadilan-Nya. Namun prestasi terbaik mereka hanya
sebatas menuntut, tidak tampak bukti kesungguhan untuk menjemput kehidupan
rumah tangga.
 
Mereka bayangkan kehidupan rumah tangga itu indah, bahkan lebih indah dari
film-film picisan ala bintang, Sahrukh Khan. Mereka tidak memandang bahwa
kehidupan keluarga adalah arena perjuangan, penuh liku dan ujian,
dibutuhkan napas kesabaran panjang, kadang kegetiran mampir susul-menyusul.
Mereka hanya siap menjadi raja atau ratu, tidak pernah menyiapkan diri
untuk berletih-letih membina keluarga.
 
Kehidupan keluarga tidak berbeda dengan kehidupan individu, hanya dalam
soal ujian dan beban jauh lebih berat. Jika seseorang masih single, lalu
dibuai penyakit malas dan manja, kehidupan keluarga macam apa yang dia
impn?
 
Pendidikan, lingkungan, dan media membesarkan generasi muda kita menjadi
manusia-manusia yang rapuh. Mereka
sangat pakar dalam memahami sebuah gambar kehidupan yang ideal, namun lemah
nyali ket didesak untuk meraih keidealan itu dengan pengorbanan. Jika harus
ideal, mereka menuntut orang lain yang menyediakannya.
Adapun mereka cukup ongkang-ongkang kaki. Kesulitan itu pada akhirnya kita
ciptakan sendiri, bukan dari siapa pun.
 
Bagaimana mungkin Allah akan memberi nikmat jodoh, jik kita tidak pernah
siap untuk itu? "Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sekadar
sesuai kesanggupannya." (QS Al Baqarah, 286).
Di balik fenomena "telat nikah" sebenarnya ada bukti-bukti kasih sayang
Allah SWT.
 
 
Ketika sifat kedewasaan telah menjadi jiwa, jodoh itu akan datang tanpa
harus dirintihkan. Kala itu hati seseorang telah bulat utuh, siap menerima
realita kehidupan rumah tangga, manis atau getirnya, dengan lapang dada.
 
Jangan pernah lagi bertanya, mana jodohku? Namun bertanyalah, sudah
dewasakah aku?
 
"Torehkan hadist ini dalam benak : "Sesungguhnya ketika seorang suami
memperhatikan istrinya dan begitu pula dengan istrinya, maka Allah
memperhatikan mereka dengan penuh rahmat, manakala suaminya rengkuh telapak
tangan istrinya dengan mesra, berguguranlah dosa-dosa suami istri itu dari
sela jemarinya" (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi' dari Abu Sa'id
Alkhudzri r.a) "
 
 
Wallahu a'lam bisshawaab

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help